Beghusik Dulu Nyemantung Kemudian

Foto-foto: net/Ilustrasi

Pergaulan Bujang-gadis

PAGARALAM POS, Pagaralam– Pergaulan antara bujang dan gadis di Besemah untuk menuju jenjang pernikahan tidak terjadi serta-merta. Ada tahap-tahap mesti yang cukup panjang. Beberapa tahap itu adalah beghusik dan nyemantung.




A.Bastari Suan dkk dalam Buku Tata Cara Adat Perkawinan Sukubangsa Besemah di Sumatera Selatan menuliskan tujuh tahaps pergaulan bujang-gadis. Ketujuh tahap itu adalah begarih, beghusek atau betandang, nyemantung, berayak, begaday, ninjaw dan maretandang atau ngule.




Beghusek adalah aktivitas bujang yang bertandang atau bertamu ke rumah gadis. Biasanya tulis A Bastari Suan dkk, beghusik dilakukan pada malam hari sektiar ba’da Isya. “Ketik beghusik, bapak atau muanay (saudara laki-laki) gadis sedang tidak di rumah. “Dalam acara beghusik itu, biasanya bujang membawa alat musik Besemah seperti ginggung, seradam, remenikah lalu muncul itar (gitar),”lanjut A Bastari Suan dkk menulis.




Dalam beghusik , antara bujang dan gadis terjadi komunikasi atau ngobrol yang lama. Ini kemudian dikenal dengan istilah ngicik panjang. Selain itu pola komunikasi juga berbentuk setimbalan rejung alias berbalas pantun.




Mady Lani, pemerhati budaya dan sejarah Besemah, mendefisinisikan beghusik sebagai aktivitas eorang bujang datang ke rumah gadis. Tujuan kedatangan bujang ini untuk berkenalan dengan gadis. “Tradisi beghusik ini, sudah ada sejak dulu,”ujar Mady, saat ditemui beberapa waktu lalu.




Mady menyebutkan, saat akan beghusik ke rumah gadis, rombongan bujang akan besiul, meringit, atau betembang. Itu merupakan sebuah isyarat bagi pemilik rumah. Isyarat dari bujang ini kata Mady akan disambut dengan deheman oleh bapak sang gadis. Ini merupakan tanda bahwa bapak sang gadis masih di dalam rumah. “Kalau bapak gadis sudah ke luar rumah, itu berarti bujang dipersilahkan untuk bertemu dengan gadis itu,”tutur Mady. “Tapi tetap ada syaratnya. Gadis diawasi oleh ibu atau neneknya,”katanya pula.




Adapun tatacara beghusek dimulai ketika bujang mengetuk pintu dengan mengucapkan: “Ibung-ibung numpang beghusek,”. Dijawab oleh ibu si gadis: “Sape titu?”. “Kami ibung. Kalu pacak kami nak numpang beghusek,”ucap rombongan bujang. Ibu si gadis lalu bertanya asal bujangan itu. “Kami kisan di jauh ibung,”. “Ame luk itu tunggu kudai ceh,”kata ibu ibu si gadis.




Setelah terjadi dialog itu, ibu itu menyuruh anak gadisnya untuk berdandan sekedarnya. Si gadis lalu disuruh menemui bujangan yang ingin beghusek tadi. Selama pertemuan ini, pintu di rumah itu dibiarkan terbuka untuk menghindari pelanggaran adat pergaulan. Antara gadis dan bujangan pun duduk berjauhan. Ditambah lagi, pertemuan ini tetap diawasi dengan ketat oleh ibu si gadis.




Selama pertemuan itu kata Mady, gadis dan bujang tidak mengungkapkan kata-kata dengan secara langsung. Mereka menyusun ungkapan kata hatinya melalui sebuah pantun. Bujang berpantun, gadis menjawab dengan pantun pula.




Selain pantun, lanjut Mady, bujang dan gadis itu melanjutkan pembicaraan lewat kertas yang sudah ditulis. Ini kemudian disebut dengan istilah merekis. Kertas dari gadis dilemparkan kepada bujang, demikian pula sebaliknya.

Nyemantung
Tahap pergaulan selanjutnya adalah nyemantung. A Bastari Suan dkk dalam buku Buku Tata Cara Adat Perkawinan Sukubangsa Besemah di Sumatera Selatan dilakukan setelah bujang sering beghusik. Nyemantng tulis A Bastari Suan dkk aktivitas ketika bujang datang ke rumah gadis sembari membawa ayam. “Kadang-kadang dibawa pula kelapa untuk dimasak dan dimakan bersama di rumah sang gadis,”tulis A Bastari Suan dkk.




Mady Lani mengatakan, masih ada proses lain sebelum menuju jenjang pernikahan yang mentradisi dalam masyarakat besemah zaman dulu. Proses itu adalah berayak, , ngulangi rasan, nueghi rasan, nepik duit, melaghikah, ngampak simah, dan pelaksanaan pernikahan. (11)

Pantun Ketika Bujang Beghusik ke Rumah Gadis

Menderap terebang tiyung
Inggap di kayu jerunjunan
Panjang karap ghindu sekampung
Utan lah jadi pedusunan
Kecici burung kecancam
Anak enggang betungkat paruh
Sangkan musi dulu diancam
Pasar Pelimbang lum dijaruh

(dijawab oleh gadis):
Ke Bangke ke Gunung Liwat
Inggap ke ranting kayu jati
Kate saje jangan dibuwat
Kandik kerungsing ati kami

(Sumber : Buku Tata Cara Adat Perkawinan Sukubangsa Besemah di Sumatera Selatan)

You can leave a response, or trackback from your own site.