Bujang dan Gadis

foto:Ilustrasi

PAGARALAM POS, Pagaralam – Laki-laki dan wanita yang sudah baligh tapi belum menikah punya sebutan tersendiri dalam masyarakat Besemah. Bagi-bagi laki-laki disebut dengan bujang, sedangkan wanita disebut gadis.




Itu ditulis dalam buku Tata Cara Adat Perkawinan Suku Bangsa Besemah di Sumatera Selatan. Buku ini diterbitkan Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumsel pada 2010. Buku ini ditulis dan disusun oleh trio Ahmad Bastari Suan, EK Pascal dan Vebri Al-Lintani. “Konsep bujang diartikan secara umum adalah laki-laki yang sudah baligh (akil-baligh) dan belum beristri,”tulis Bastri dkk seperti dikutip Pagaralam Pos kemarin.




Lanjut Bastari dkk menulis, dalam adat Besemah ada tiga pengertian bujang. Yakni bujang, bujang-bujang dan dibujangkah. Bila seorang anak-lang sudah disunat, disebut dengan bujan atau bujang kecik. Bila bujang-kecil kurang atau tidak mendapatkan pendidikan moral, sopan-santun atau akhlak, maka di akan tumbuh bak kuda liar. “Bujang semacam inilah yang disebut bujang-bujang,”tuturnya.




Sebaliknya, bujang kecik yang mendapatkan contoh teladan yang baik, mendapatkan didikan moral yang baik, disebut dengan dibujangkah. Bujang seperti ini biasanya bemalu, besingkuh, besundi dan besundat. Pendek kata bujang ini memiliki sikap yang sopan dan bertatakrama yang baik.




Sama halnya dengan bujang, gadis bisa diartikan secara umum yakni perempuan yang sudah baligh dan belum bersuami. Dalam adat besemah, falsafah gadis memiliki tiga pengertian yakni gadis, gadis-gadis dan digadiskah. “Bila anak perempuan sudah dibancikah (disunat/dibersihkan di sungai) namany gadis atau gadis kecik,”kata Bastari dkk.




Bila gadis itu dibiarkan saja tak diberikan atau kurang didikan agama, moral dan sopan santun maka istilahnya gadis-gadis. Sebaliknya bila gadis itu diberikan pendidikan agama, moral yang baik, disebut dengan digadiskah.

Berdasarkan Umur
Buku Tata Cara Adat Perkawinan Suku Bangsa Besemah di Sumatera Selatan gadis dan bujang dikelompokkan berdasarkan umurnya. Ada empat kelompok yani bujang kecik/gadis kecik, bujang budak/gadis budak, bujang besak/gadis besak dan bujang tuwe/gadis tuwe.




Di luar itu ada juga istilah bujang-gadis, kadang disebut dengan muda-mudi, budak-mude, lelaje, atau perangkat mude. Namun istilah perangkat mude lebih mengacu pada makna generasi. Misalnya saja perangkat mude Besemah artinya generasi muda Besemah. Bujang-gadis juga sering disebut budak perjake atau parejake.

Versi KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi Daring, bujang diartikan sebagai anak laki-laki dewasa yang belum menikah. Sedangkan gadis diartikan sebagai anak perempuan yang sudah akil balig. Atau anak perempuan yang belum kawin alias perawan.




KBBI juga mengelompokkan istilah gadis berdasarkan umurnya yakni gadis besar , gadis keci, gadis tanggung dan gadis tua. Gadis besar ialah gadis yang sudah mencapai umur 18 tahun. Gadis kecil ialah gadis yang masih sangat muda alias berusia 13 tahun. Gadis tanggung ialah g adis yang sudah dewasa tapi bukan anak-anak lagi. Adapun gadis tua ialah gadis yang sudah berusia lebih dari 35 tahun tapi belum kawin alias perawan tua.




Sementara untuk bujang juga dikenal dengan istilah membujang, bujangan, pembujangan dan kebujangan. Membujang ialah orang yang belum atau tida mau kawin. Bujangan artinya seseorang yang belum atau tidak kawin atau belum beristri. Pembujangan ialah proses, cara, perbuatan membujang. Adapun kebujangan ialah hal sebagai bujang.

Renjih

BILA laki-laki sudah menjadi bujang dan perempuan telah menjadi gadis, mulailah mereka terlibat dalam pergaulan. Mereka pun mulai renjih alias memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. “Kalau bujang mulai ribang (tertarik) dengan gadis. Kalau gadis tertarik dengabn bujang,”tulis Ahmad Bastari Suan dkk dalam buku Tata Cara Adat Perkawinan Suku Bangsa Besemah di Sumatera Selatan.




Tanda seorang bujang mulai ribang dengan seorang gadis atau sebaliknya, biasanya ada perasaan ingin selalu bertemu. Tetapi keberanian tersebut belum ada. Di dalam istilah Besemah, ini dikatakan takut dik rani. Di sinilah perang ibung (kaum ibu) dalam pergaulan bujang-gadis Besemah. Ibung ini menjadi perantara bujang dengan gadis.




Namun, pergaulan bujang-gadis memiliki tahap-tahapnya. Buku Tata Cara Adat Perkawinan Suku Bangsa Besemah di Sumatera Selatan mencatat ada 7 tahap. Ketujuh tahap ini adalah begarih,beghusik atau betandang, nyemantung, berayak, begaday, ninjaw, mearetandang atau ngule. Tahap demi tahap tersebut kelak-bila lancar- akan bermuara pada perkawinan. (11)

Pantun yang Menggambarkan Bujang dan Gadis yang Memiliki Tatakrama

Selindap bunge selindip
Ketiga buwah maye-maye
Se endap keduwe indip
Ketiga lembah peribase

Artinya
Selindap bunga selindip
Ketiga buah maye-maye
Pertama merendah, kedua hati-hati
Ketiga sopan santun berbahasa

(Sumber: Buku Tata Cara Adat Perkawinan Suku Bangsa Besemah di Sumatera Selatan)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply