Kandang Bughuk Disighati

Foto: net/ilustrasi

Menyatukan Tali Silaturahmi yang Terputus

Perkawinan antar orang yang masih berkerabat jauh mungkin saja terjadi. Di Besemah, perkawinan semacam ini disebut dengan istilah nyighati kandang bughuk. Kadang pula dibalik kandang bughok disighati.




AHMAD Bastari Suan mengenang masa lalunya tatkala masih tinggal di Desa Pelajaran Kabupaten Lahat. Waktu itu sekitar tahun 1970-an, Bastari diminta ayahnya untuk menikah dengan seorang perempuan yang terhitung masih kerabat jauhnya. Sangat perempuan saat itu bermukim di Dusun Tanjung Cermin. “Cukah kaba galak dide nikah nga anak sianu itu,”ujar Bastari menirukan perkataan ayahanda yang terjadi puluhan talum silam itu, kepada Pagaralam Pos yang menghubungi lewat telepon kemarin (12/4).




Menurut Bastari, rencana tersebut dilakukan demi menguatkan kembali hubungan silaturahmi antara keluarganya di Desa Pelajaran dengan keluarga di Dusun Tanjung Cermin. Maklum katanya, keluarga besarnya di Desa Pelajaran memiliki banyak keluarga jauh di Desa Tanjung Cermin. Namun hubungan antar keluarga ini sudah renggang, untuk tidak dikatakan sudah hilang samasekali.




Sayangnya, niat baik ini urung terwujud. Pada 1975, Bastari memutuskan untuk merantau ke Palembang. Hingga kini Bastari masih tinggal di Kota empek-empek ini. “Ya bagaimana lagi. Mungkin karena tidak jodoh,”ujar Bastari yang kini berusia 70 tahun lebih, sembari terkekeh-kekeh.

Budaya Besemah

Belakangan, Bastari bergelut di dunia budaya dan sejarah. Budaya dan sejarah Besemah tak luput dari penelitiannya. Karenanya Bastari dikenal sebagai seorang sejarawan cum budayawan. Di sinilah, Bastari jadi tahu bahwa maksud ayahanda dulu menjodohkannya dengan keluarga jauhnya disebut dengan istilah ‘Kandang Bughuk Disighati’. “Sebuah istilah perkawinan di Besemah.Tujuannya untuk merekatkan kembali hubungan silaturahmi antara keluarga jauh yang sempat terputus,”ujar Bastari.




Pada 2009 lalu, Bastari bersama Ek Pascal dan Vebri Al Lintani menyusun sebuah yang berjudul Buku Tata Cara Ada Perkawinan Suku Bangsa Besemah di Sumatera Selatan. dalam buku yang diterbitkan Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumsel ini, Bastari dkk juga menulis tentang istilah ‘Kandang Bughuk Disighati’. Dijelaskannya, perkawinan antara orang yang memiliki hubungan kerabat darah maupun jauh namun masih dapat ditelusuri. “Jelasnya, ada hubungan baik pada masa lalu seperti hubungan angkit-angkan,”tulis Bastari dkk.




Lebih lanjut Bastari menjelaskan, Kandang Bughuk Disighati dapat terjadi dengan karena faktor dirasankah dan kebetulan. Dirasankah artinya ada faktor kedua orangtua untuk menjodohkan anak-anaknya. Adapun kebetulan, yakni karena faktor tidak karena disengaja. Dicontohkannya, ada bujang dan gadis berpacaran lalu berencana untuk menikah. Setelah keluarga dari kedua belah pihak bertemu, barulah diketahui bahwa gadis dan bujang ini memiliki hubungan kekerabatan tapi sudah jauh.




Pemerhati Budaya Besemah Agustian Basrun mengatakan, secara umum istilah Kandang Bughuk Disighati dapat dimaknai sebagai perkawinan antar orang yang memiliki hubungan keluarga tapi sudah jauh. Adapun tujuannya lanjut dia, untuk memperkuat kembali tali silaturahmi yang sempat terputus dengan keluarga jauh. “Sampai sekarang, perkawinan seperti ini masih sering terjadi,”tutur Agus saat dihubungi terpisah.




Agus memberikan ilustrasi. Dua orang yang masih terhitung saudara-setelah bekeluarga- terpisah dusun. Lalu dua orang ini beranak cucu sampai dengan cicit. Karena suatu dan lain hal, cicit dari dua orang tersebut sudah sepeti tidak saling kenal lagi. Padahal mereka memiliki hubungan kekerabatan. Maka, untuk memperkuat silaturahmi, diadakanlah rencana perkawinan.




Baik Bastari maupun Agus sama-sama percaya bahwa Kandang Bughuk Disighati efektif untuk memperkuat kembali hubungan tali silaturahmi yang sempat retak. Kata Agus, karena ada perkawinan, antar keluarga kembali saling berjumpa. “Yang selama ini terlupakan, jadi teringat kembali,”ujar Bastari.

Mbalikkah Mulan

Ada juga istilah mbalikah mulan. Ini kata sejarawan Sumsel Ahmad Bastari Suan merupakan istilah perkawinan antara orang yang memilik hubungan kekerabatan dekat. Dekat dan jauhnya hubungan kekerabatan inilah lanjut Bastari yang membedakan mbalikah mulan dengan kandang bughok disighati. “Mbalikah mulan, itu artinya mengembalikan ke asal,”ujar Bastari saat dihubungi Pagaralam Pos kemarin.




Dalam buku Tata Cara Ada Perkawinan Suku Bangsa Besemah di Sumatera Selatan yang disusun Bastari, Ek Pascal dan Vebri Al Lintani, dijelaskan bahwa mbalikkah mulan adalah sebutan untuk perkawinan orang yang masih berkerabat dekat. Agar hubungan ini tak putus, maka diupayakan ada generasi penerus yang dikembalikan kepada asal kerungkang palak atau asal dusun laman nining puyang. Atau dikembalikan kepada asal dusun meraje nining dan meraje puyang. “Konon, bentuk perkawinan tunggal meraje merupakan bentuk perkawinan ideal dalam adat Besemah,”tulis Bastari dkk.




Agustian Basrun, Pemerhati Budaya Besemah menekankan adanya perbedaan antara mbalikah mulan dengan nyighati kandang bughok. Dua istilah ini katanya, secara umum dibedakan dengan jauh dekatnya hubungan kekerabatan. “Kalau mbalikah mulan, itu pasti perkawinan orang yang memiliki hubungan keluarga dekat,”kata Agus. “Tapi kalau kandang bughok disighati, bisa saja yang menikah itu hanya memiliki hubungan angkanan saja,”

Tebeghak di Pembasuhan

Di luar istilah mbalikkah mulan, ada juga istilah tebeghak di pembasuhan. Ini kata Agus, merupakan istilah halus untuk perkawinan orang yang memiliki hubungan keluarga yang sangat-sangat dekat. Misalnya saja dicontohkannya, dua orang itu masih terhitung sepupu karena due berading nining kandung.(11)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply