Lafadz Basmalah Menandakan Akulturasi

Foto-foto: Pidi/Pagaralam Pos
ILMIAH: Tim peneliti dari Balai Arkeologi Palembang ketika berdiskusi dengan wartawa dan GM Harian Umum Pagaralam Pos di D’Cabin, Rabu malam (1/5).

‘Mencari Islam’ di Kaghas

Sekelompok peneliti gabungan dari Balai Arkeologi Palembang dan akademisi perguruan tinggi datang ke Pagaralam. Mereka meneliti tradisi Islam dalam prasasti dan naskah ulu di wilayah Besemah.




“ITU dia lafadz basmalahnya,”ujar Wahyu Riski Andifani. Sembari bicara demikian, ia menunjuk layar-cahaya dari infocus yang diarahkan ke dinding. Dalam layar ini tergambar sebuah kalimat yang ditulis samar dalam Bahasa Arab gundul. “Bunyinya bismillahhirrohman,”kata Wahyu lagi.




Rabu malam (1/5), di sebuah ruang terbuka di D’Cabin Gunung Gare itu, Wahyu tak sendiri. Ia ditemani lima orang rekannya di antaranya Aryo Arungdinang, dan Retno Purwanti. Mereka ini-termasuk Wahyu-adalah tim yang akan melakukan penelitian di wilayah Besemah. Wahyu dan Retno adalah peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Palembang. “Kami mau meneliti tradisi Islam di dalam isi prasasti dan naskah ulu,”ujar Wahyu yang didapuk sebagai ketua tim peneliti, ketika ditemui Pagaralam Pos.




Itulah sebabnya yang diteliti Wahyu dan kawan-kawannya tersebut adalah kaghas. Ini merupakan sebuah naskah yang ditulis dalam lembaran-lembaran kulit kayu dengan huruf ulu. Kerap disebut singkat dengan kitab kaghas. Bagi Wahyu kaghas merupakan bagian dari naskah ulu. Adapun kaghas yang sedang dibacakan Wahyu malam itu, berasal dari Sumbai Penjalang.




Begitu menemukan ada lafadz basmalah, Wahyu berkesimpulan, bahwa saat kaghas itu ditulis, Islam sudah masuk dan berkembang dalam wilayah Besemah. “Isi kaghas yang kami teliti ini berisi tentang syariat Islam. Tapi perlu ahli untuk menafsirkannya,”tuturnya. Karenanya, sebelum Islam masuk, Wahyu menduga, masyarakat Besemah bisa saja berpaham animisme maupun dinamisme.




Satu hal lagi yang juga menarik lanjut Wahyu, bahwa begitu Islam masuk ke Besemah, tradisi penulisan dengan menggunakan huruf ulu tidak hilang. Penulisan tidak semua menggunakan huruf Arab gundul. Sebaliknya, ketika Islam masuk, tradisi penulisan huruf ulu dan arab gundul digabung. “Istilah saya di-mix (dicampur). Bisa jadi dalam satu naskah, terdapat tulisan Arab gundul dan huruf ulu sekaligus,”ucapnya.




Tim juga sedang mencari surat ulu yang medianya berupa benda-benda keras seperti tanduk dan gading. Benda-benda keras yang berisi tulisan dengan huruf ulu ini dinamakan Wahyu dengan prasasti. “Prastasti itu tidak mesti berupa batu,”ujarnya menjelaskan. Sayangnya kata Retno Purwanti-anggota tim- pihaknya belum mendapatkannya.




Sementara itu, Mady Lani-pemerhati sejarah Besemah-yang juga hadir di D’Cabin berpendapat bahwa sejak dulu masyarakat Besemah sudah menganut kepercayaan monotheisme alias tauhid. Ini katanya didasarkan adanya mantra-mantra yang berisi lafal Allah di dalamnya.




Adapun Ahmad Bastari Suan, sejarawan Sumatera Selatan berpendapat, kemungkinan besar sejak dulu masyarakat Besemah sudah menganut ajaran Islam. Tapi lanju dia, ajaran Islam yang dianut masyarakat zaman itu bukan secara syariat melainkan baru tahap hakekat. “Mereka menganut ajaran yang dibawa Nabi Ibrahim, Islam juga. Tapi syariatnya belum mengacu dengan ajaran Nabi Muhammad SAW,”papar Bastari saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Sulit Mencari Data
Mencari kaghas di Pagaralam rupanya susah-susah mudah. Susah karena kata Aryo Arungdinang yang juga ikut dalam tim, tidak semua orang mau membuka kaghas yang dimilikinya kepada tim. Kalaupun mau cerita Aryo, maka ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. “Ada banyak syarat yang mesti dipenuhi,”ujarnya.




Syarat-syarat untuk membuka kaghas itu kadangkala di luar nalar. Misalnya saja dengan membuat pelbagai macam bubur untuk sesaji. Ini pernah dialami Mady Lani, seorang pemerhati budaya dan sejarah Besemah. “Dulu saya pernah disuruh mandi kembang, jam 1 malam,”cerita Mady.




Mandi kembang merupakan salahsatu syarat bila Mady ingin membuka dan membaca kaghas yang tersimpan di sebuah rumah penduduk. Selain itu Mady juga diminta membuat bubur aneka warna. Ini juga dipenuhi Mady. Setelah seluruh syarat dipenuhi, Mady lalu dipersilahkan untuk membuka dan membaca kaghas itu. “Setelah saya baca, eh isinya rupanya resep makanan,”ujar Mady lantas tergelak-gelak.

Belum Ada Judul

SATARUDIN Tjik Olah pernah membaca dua buah kitab kaghas. Kitab pertama disimpan warga Dusun Gunung Agung Kecamatan Dempo Utara. Kitab kedua berada di Dusun Pagar Agung Kecamatan Pagaralam Selatan . Sebagian besar kitab ini, kata Satar tak memuat nama penulisnya-laiknya buku-buku modern. “Jadi, pas dibuka, langsung mengarah kepada isi,”tuturnya saat ditemui Pagralam Pos beberapa waktu lalu.




Kendati, Satar memperkirakan, kitab kaghas tersebut dibuat oleh para leluhur jurai tue-pemilik kitab kaghas sekarang. “Waktu pembuatannya kira-kira dari tahun 1630 sampai dengan 1650,”lanjut dia. Karena itu, wajar jika pemilik kitab kaghas di zaman sekarang juga tak tahu siapa yang menulis kitab itu. Sebabnya, perbedaan generasinya terpaut sangat jauh.




Untuk menulis, leluhur besemah menggunaka tinta alami yang terbuat dari di antaranya rebusan sebuah daun, manis kabung alias nira yang ditambah dengan langas-hasil pembakaran karbondioksida yang tak sempurna. Biasanya langas didapat dari lampu damang-lampu di zaman dulu.




Meskipun demikian, bagi Satar, adanya kitab kaghas tersebut-terlepas dari siapa pengarangnya- merupakan sebuah bukti konkrit. Bahwa kata ia, masyarakat besemah sudah memiliki kebiasaan untuk menulis dan membaca. “Orang luar bahkan menyebutkan, bahwa peradaban besemah adalah yang tertua,”ucapnya bangga. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply