Metangka Aghi

Foto: Dok/Pagaralam Pos
ISI WAKTU: Mencari pembukean di pasar merupakan satu di antara sekian banyak aktivitas untuk menanti waktu berbuka puasa.

Banyak kegiatan bermanfaat yang bisa dilakukan sembari menunggu waktu berbuka puasa.

METANGKA AGHI merupakan istilah yang tak asing bagi Helmi Madjid. Mantan juru tulis pesirah Sumbai Mangko Anom Suku (SMAS) Muara Siban ini terkenang dengan kegiatannya di masa remaja. Dulu, di bulan puasa, Helmi dan kawan-kawannya sering metangka aghi. “Kami metangka aghi dengan cara jalan kaki ke gunung. Kadang pula dengan memancing,” ujar Helmi mengenai bentuk metangka aghi yang dilakoninya dulu, ditemui Pagaralam Pos pada 2017 lalu.




Dengan metangkah aghi, diakui Helmi, waktu tidak akan terasa. Tiba-tiba saja sudah masuk waktu berbuka puasa. “Kami biasanya pulang kalau sudah sore. Jadi, menunggu sebentar sudah berbuka,”ucapnya. Bila diam saja di rumah menurut Helmi, selain bosan, waktu terasa berputar dengan lambat. Karena itu, bagi Helmi remaja, saat bulan puasa lebih baik banyak berada di luar ketimbang di dalam rumah.




Bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia, metangka aghi bisa berarti mensorekan hari. Sebuah kata-kata yang rancu. “Metangka aghi itu hanyalah sebuah istilah, sebutan saja. Kerap digunakan masyarakat besemah,”ujar Satarudin Tjik olah, anggota Lembaga Adat Besemah, saat dihubungi lewat sambungan telepon seluler.




Menurut ia, metangka aghi, merupakan sebuah istilah yang merujuk kepada kegiatan atau aktivitas untuk menunggu waktu berbuka puasa. Akan tetapi, kegiatan itu kata Satar harus memiliki manfaat dan menghasilkan. Karenanya, dalam metangka aghi tidak diperkenankan diisi dengan kegiatan negatif yang dapat mengurangi pahala puasa.




“Metangka aghi bisa dilakukan dengan cara memancing ikan di sungai atau kolam. Panen buah-buahan, dan beragam kegiatan positif lainnya,”ucap Satar mengenai beberapa bentuk metangka aghi. Dalam istilah yang populer di zaman sekarang, metangkah aghi sama dengan ngabuburit.




Sebagaimana Helmi Madjid, dulu waktu kecil, di bulan puasa, Satar sering metangka aghi. Ia memilih metangka aghi dengan cara ngalir. Ini merupakan teknik memancing ikan lele di dalam sela-sela batu sungai. “Patokannya adalah waktu. Kalau dirasa sudah sore, ya pulang,” kenangnya.




Kini diakui Satar, bentuk aktivitas metangka aghi sudah kian banyak. Sebab, masyarakat sudah dihadapkan dengan berbagai alternatif. Hanya saja, memancing tetap jadi pilihan favorit warga untuk menunggu waktu berbuka. Pengamatan Pagaralam Pos di lapangan, sejumlah pemancingan nampak ramai.




Mencari pembukean-menu berbuka puasa- juga dijadikan cara bagi warga untuk metangka aghi. Warga berkeliling dari satu lokasi ke lokasi lain guna mencari pembukean. Biasanya aktivitas ini akan berhenti ketika sudah mendekati waktu berbuka puasa. Tak heran, bila kantong-kantong kuliner yang menjajakan takjil jadi ramai.




Bazar ramadhan di Terminal Nendagung menjadi salahsatu tujuan warga untuk mencari takjil. Bazar ini akan tambah ramai ketika hari semakin sore. Menurut Sarkusi, salahseorang warga, bazar ini merupakan tempat bagi warga untuk mencari menu berbuka puasa. “Semuanya ada di sini,” ujarnya. Selain di Terminal Nendagung, pedagang takjil juga bisa dijumpai di kawasan pasar, Talang Jawa, dan Simpang Padang Karet. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.