Pembukean

Foto: dok/Pagaralam Pos
BANYAK PILIHAN: Aksi pembagian pembukean yang dilaksanakan sekelompok pemuda Pagaralam beberapa waktu lalu.

Ada banyak macam menu makanan yang biasa disantap saat berbuka puasa. Di Besemah, menu-menu itu dinamakan pembukean yang jenisnya bermacam-macam.




TIAP kali mendengar kata pembukean, yang terbayang oleh Satarudin Tjik Olah (70) adalah nama-nama makanan. Menurut Satar, makanan-makanan itu selalu disajikan sebagai menu untuk berbuka puasa. “Makanya istilahnya pembukean. Berasal dari kata berbuke atau berbuka. Arahnya kepada jenis-jenis makanan di saat berbuka puasa,”ujar ujar Satar, dalam sebuah wawancara dengan Pagaralam Pos pada 2017 lalu.




Menu-menu itu, lanjut Satar memiliki banyak bentuk dan rasa. Ada yang sudah berbentuk makanan modern dan tradisional. Adapun menu tradisional yang biasa disajikan saat berbuka, sepanjang pengetahuan Satar ada empat buah. Empat buah menu tradisional ini selalu muncul di rumah-rumah warga ketika bulan puasa. Keempat makanan itu, Satar menyebutkanadalah serawe, tapai, lemang, dan dawat.




Serawe, menurut Satar, merupakan makanan tradisional yang akrab disebut dengan kolak baik yang terbuat dari pisang, ubi kayu dan perenggi. Makanan ini memiliki kuah bewarna kecoklat-coklatan dan memiliki aroma yang khas. “Serawe itu memiliki rasa yang manis. Sehingga cocok dijadikan untuk menu untuk berbuka,”tutur anggota Lembaga Adat Besemah ini.




Adapun tapay adalah makanan yang dihasilkan dari ubi kayu yang difermentasi. Ubi kayu yang sudah difermentasi ini memiliki warna yang putih pucat. Tapay memiliki tekstur yang lembut dan rasa yang manis sedikit keasam-asaman juga cocok dijadikan panganan berbuka. “Kalau dulu, tiap rumah warga pasti menyajikan tapai di waktu berbuka.Bahkan ada yang mencari ubi kayu lalu dijadikan tapay untuk memudian dijual,”ucapnya. Selain ubi kayu, tapay juga bisa dibuat dari padi beram. Rasanya pun tidak kalah dengan tapay yang terbuat dari ubi kayu.




Sedangkan lemang adalah sejenis makanan yang dibuat dengan menggunakan bambu bulat. Di dalam bambu bulat ini dimasukkan tepung beras yang sebelumnya sudah dibalut dengan duan pisang. Selanjutnya, bambu bulat ini didekatkan dengan api sampai isi di dalamnya matang. Lemang memiliki tekstur yang lembut dan rasa yang gurih. “Kalau dulu, lemang itu disantap dengan manis kabung. Ini merupakan cairan manis yang disadap dari pohon aren atau enau,”tutur Satar.




Sampai sekarang, Satar meyakini, makanan-makanan tradisional itu masih dibuat oleh warga sebagai menu untuk berbuka puasa. Semakin ke arah dusun-dusun, kata Satar, menu-menu tradisional itu masih banyak yang membuatnya. “Saya lihat, tapai dan lemang itu sudah dijual di pasar,”tambahnya.
Satar memang benar. Lemang memang nampak dijual bebas di pasar Pagaralam. Para pedagang yang mayoritas adalah kaum ibu membawa lemang di dalam kinjagh-wadah tradisional.




Kini, menu untuk pembukean sudah kian beragam. Manu modern pun bisa dijumpai dengan mudahnya di pasar bedug di area Terminal Nendagung. Juga di pasar ramadhan di kawasan Simpang Padang Karet. Hampir tiap sore, dua kawasan ini selalu dipadati penduduk. Mereka ‘berburu’ pembukean untuk kemudian dibawa ke rumahnya. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply