Dari Gunung, Dipentaskan Gaung

Foto: Repro/Pagaralam Pos
SUKSES: Para pemain Teater Gaung ketika mementaskan drama berjudul Gadis Perawan di Sarang Jabalan pada 2009 lalu.

Jabalan

Masyarakat Besemah lebih akrab dengan istilah jabalan ketimbang penyamun. Sebuah istilah yang pernah ditulis dalam roman lalu pentaskan sebuah teater di Palembang.




SUDAH hampir genap 10 tahun drama itu dipentaskan. Tapi, Efvhan Fajrullah SPd masih mengingatnya dengan jelas. Bang Vhan- sapaan akrab Efvhan Fajrullah-mengingat hari itu, 29-31 Mei 2009, auditorium RRI Palembang-lokasi pementasan drama- dipenuhi penonton.




“Jadwal pentas kami harusnya sekali sehari. Tapi, karena penonton meminta, kami pun mentas sehari dua kali sehari,”ucap Bang Vhan yang kini menjadi wartawan Harian Umum Palembang Pos, tentang suasana pementasan drama itu kepada Pagaralam Pos kemarin (15/3). Maka, selama tiga hari berturut-turut, para pemain mentas sebanyak enam kali.




Drama itu dipentaskan Teater Gaung. Sutradaranya adalah Amir Hamzah Arga. Adapun pimpinan produksinya adalah seniman Vebri Al-Lintani. Tercatat ada 9 pemain inti-termasuk Bang Vhan. Dalam drama ini Bang Vhan memerankan seorang jabalan bernama Amat. “Waktu itu kami memainkan drama berjudul Gadis Perawan di Sarang Jabalan,”ucap Bang Vhan.




Gadis Perawan di Sarang Jabalan merupakan karya yang didadaptasi dari roman karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang terbit pada 1932. Roman ini berjudul Anak Perawan di Sarang Penyamun. Antara judul drama dan roman memiliki kesamaan. Bedanya adalah penggunaan istilah jabalan dan penyamun. “Jabalan istilah yang populer di Sumsel, terutama di Besemah,” ujar Vebri Al-Lintani, pimpinan produksi, dalam sebuah video.




Menurut Bang Vhan, istilah penyamun dan jabalan sebenarnya sama. Istilah ini sama-sama merujuk kepada perampok. “Jabalan itu diserap dari Bahasa Arab. Kata dasarnya adalah jabal yang berarti gunung atawa bukit,”tuturnya menjelaskan. Seiring berjalannya waktu lanjut Bang Vhan, istilah jabalan dilekatkan kepada perampok atawa penyamun yang markasnya nun di rimba belantara gunung.




Sayangnya istilah jabalan belum masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. KBBI hanya mengenal istilah perampok dan penyamun. Karena itulah jabalan hanya populer di kalangan masyarakat Besemah dan sedikit orang Sumsel.

Mirip Kisah Robin Hood
Jabalan mengingatkan tentang kisah Mesanaf dan Mesaris. Lakon dua orang ini bak Robin Hood di Benua Eropa. Keduanya dikisahkan menjadi perampok demi membantu rakyat miskin yang kala itu dijajah Belanda. “Hasil rampokan itu dibagi-bagikan kepada rakyat jelata,”cerita Satarurdin Tjik Olah, anggota Lembaga Adat Besemah tentang Mesanaf dan Mesaris, saat ditemui beberapa tahun lalu.




Karena itu diakui Satar, di mata rakyat miskin kala itu, nama Mesanaf dan Mesaris sangat harum. Namanya sering-sering disebut-sebut. “Kedatangannya tak diduga,”ucap Satar. “Kadang ketika bertemu warga di kebun, dua orang itu membagikan sesuatu. Setelah itu pergi entah ke mana,” katanya lagi. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply