Sedekah Juada

Foto : Pidi/Pagaralam Pos
GOTONG-ROYONG: Ibu-ibu Dusun Gunung Agung Pauh dibantu Bhabimkatimbas Polsek Dempo Utara Brigpol Raswan Hadi membuat juada kemarin.

Simbol Syukur Kepada Yang Kuasa

PAGARALAM POS, Pagaralam – Tikar terhampar di halaman warga Dusun Gunung Agung Pauh Kelurahan Agung Lawangan Kecamatan Dempo Utara. Di atas tikar puluhan ibu bercoleteh sembari melipat daun pisang yang sebelumnya diisi dengan ketan. Sementara, sekelompok ibu-ibu lain sibuk mengaduk-aduk wajan yang berisi beras ketan bercampur santan. Wajan didudukkan di atas tungku dengan api menyala-nyala. Kemarin (21/3), ibu-ibu dusun ini nampak sibuk dengan tugasnya masing-masing.




Ibu-ibu itu sibuk membuat juada-makanan tradisional Besemah dengan bentuk mirip kelicuk- yang akan dihidangkan pada Kamis malam (21/3) dalam rangka syukuran. “Kami bersyukur atas kehadiran bayi Rizki Raga Anugrah,” ujar salahseorang ibu-ibu ketika ditanyai Pagaralam Pos di sela kesibukannya.




Rizki Raga Anugerah sendiri merupakam bayi malang yang ditemukan di pinggir siring RT 05 Dusun Gunung Agung Pauh pada Selasa pagi (19/3). Kemunculan bayi ini-meskipun mengejutkan- disambut dengan antusias penduduk setempat.




Menurut Rihansidi, Ketua RW 02 Dusun Gunung Agung Pauh, jumlah juada yang dibuat ibu-ibu itu sangatlah banyak, mencapai 60 kg. Ini merupakan jumlah yang tidak biasa. “Biasanya, kalau untuk sedekah, jumlah juada yang dibikin itu paling banyak 25 kg,” ucap Rihansidi.




Dijelaskan Rihansidi, juada merupakan simbol syukur kepada Allah SWT. Ini ditandai dengan penggunana bahan berupa beras ketan yang merupakan simbol kehidupan. Bayi Rizki adalah wujudnya. “Nanti malam (Jum’at malam), juada-juadi ini akan bagikan kepada tamu undangan,” tambahnya.




Gotong-royong pembuatan juada itu menarik perhatian Kapolres Pagaralam AKBP Tri Saksono Puspo Aji SIk MSi. Di sela kunjungannya ke Polindes Gunung Agung Pauh-tempat bayi Rizki berada-Tri ikut nimbrung ke kerumunan ibu-ibu. Dia juga ikut serta mengaduk-ngaduk wajan serta melipat daun pisang berisi adonan beras ketan bercampur santan.

Makanan tradisional
Pemerhati Budaya dan sejarah Sumatera Selatan (Sumsel), Ahmad Bastari Suan mengelompokkan juada ke dalam kategori makanan ringan khas Besemah. Selain juada, kata dia, yang masuk kategori makanan ringan ini antara lain adalah gunjing, tapay, buarengas, lemang dan kelicuk.“ Ada juga kuliner berupa lauk makan (terutama gulay),”tuturnya saat dihubungi Pagaralam Pos beberapa waktu lalu. Lauk makan ini di antaranya gulai liling, pepes tighau, dan ikan masak ghuas.




Bastari juga menuturkan, potensi kuliner khas Besemah harus digarap lebih baik lagi. Itu kata Bastari, jika ingin Kota Pagaralam benar-benar serius ingin menjadi Kota Wisata. Sebab jelas dia, wisatawan umumnya butuh sesuatu yang baru dan unik.




Dan itu sebut dia, ada dalam kuliner lokal. Dalam hal ini tak lain adalah kuliner khas Besemah. “Kalau wisatawan ingin pizza, atau gudeg, mereka pasti tidak akan ke Besemah,”sindir Bastari, dalam layanan pesan singkat yang diterima Pagaralam Pos, beberapa waktu lalu.




Bagaimana cara untuk memulainya? Menurut Bastari, harus dimulai dari tingkat yang sederhana terlebih dahulu. Yakni, disediakan di semua warung makan. Dengan begitu kata dia, wisatawan yang datang mudah untuk mendapatkannya.




Selain itu lanjut dia, bisa dimulai dari dunia pendidikan. Bastari menyarankan, agar sekolah memberikan matapelajaran masak-memasak kuliner khas Besemah. Dengan begitu, para siswa tidak akan lupa dengan salahsatu warisan leluhur tersebut. “Jangan takut dikatakan tidak modern dengan memperkenalkan masakan warisan nenekmoyang sendiri. Jangan jejali anak-anak dengan masakan Itali, korea, dan lain sebagainya, tapi mereka lupa dengan masakan dari daerah sendiri,”ujarnya menekankan.(11)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply